Hujan itu, tak segan dia Membasahi...
Membasahi setiap Sudut Kelam,
sampai tak ada langkah yang tanpa meninggalkan Jejak.
Akan selalu ada Do'a menemani hembusan Angin
yang Membelai setiap Helai RambutMu.
Akan selalu ada Harapan tentang Bola Mata
yang tidak pernah tahu untuk bersembunyi MenatapMu.
Bahkan Kuatir ini ialah Jawaban tentang Pertanyaan Bodoh,
Menjelaskan bahwa KerinduanKu padaMu adalah Kebenaran.
Rabu, 14 September 2016
Rabu, 19 Agustus 2015
Kamis, 13 Agustus 2015
Jumat, 19 Juni 2015
Rabu, 11 Juni 2014
Sebrang Sungai
Dimalam Saat Akhir Dari Hujan Tertinggal Pada Setiap Helai Daun,
Gelapnya Semesta Berganti Kemilau Bintang Dalam Setiap Kedipan.
Seper Dua Dari Bulan Hadir Dengan Gemuruh Camar Malam,
Ramai, dan Berpihaklah Camar MalamKU...
Lama KU Tunggu Engkau Sejak Waktu Yang Tlah Kita Mulai.
Segelas Teh Panas akan Menemani Engkau dan Camar MalamKu,
Di Sebrang Sungai ini Tempat Kita Bersandar Bersama Lelah.
Lihat, Dengar, Rasakan, Aku dan Dia Camar Malam.
Kamis, 10 April 2014
Sebrang Jalan
SEBRANG JALAN
Disebrang Jalan Kau Seakan Tak Lelah,
Disebrang Jalan Kau Mendengarkan Mereka,
Disebrang Jalan Kau Membagi Banyak Hal,
Disebrang Jalan Kau Adalah Kisah dan Cerita.
Tak Kalah Sepasang Mata Ini MemandangMU
Kau dan Aku Ada Dibelah Tepi Jalan.
Kepala, Telunjuk Bahkan Kaki Kadang Cemburu,
Tatapan Mata Yang Begitu Mesrah,
Tarian Wajah Teka-Teki Hadir Bersamaan.
Waktu Dalam Hari Tak Terasa,
Angin Sore Ini Mencari Membelai RambutMU.
Semut-Semut Warna Ini Menunggu CeritaMU.
Daun-Daun Ingin Mendengar Suara TawaMU.
Kemanakah EngKau yang KUsebut Sayang...
Aku Masih Menyimpan Serpihan Tulang-TulangKU
Sampai Pandangan Itu Kembali Melihat JiwaKU Siap.
Dikner Alipa
Disebrang Jalan Kau Seakan Tak Lelah,
Disebrang Jalan Kau Mendengarkan Mereka,
Disebrang Jalan Kau Membagi Banyak Hal,
Disebrang Jalan Kau Adalah Kisah dan Cerita.
Tak Kalah Sepasang Mata Ini MemandangMU
Kau dan Aku Ada Dibelah Tepi Jalan.
Kepala, Telunjuk Bahkan Kaki Kadang Cemburu,
Tatapan Mata Yang Begitu Mesrah,
Tarian Wajah Teka-Teki Hadir Bersamaan.
Waktu Dalam Hari Tak Terasa,
Angin Sore Ini Mencari Membelai RambutMU.
Semut-Semut Warna Ini Menunggu CeritaMU.
Daun-Daun Ingin Mendengar Suara TawaMU.
Kemanakah EngKau yang KUsebut Sayang...
Aku Masih Menyimpan Serpihan Tulang-TulangKU
Sampai Pandangan Itu Kembali Melihat JiwaKU Siap.
Dikner Alipa
Sabtu, 08 Maret 2014
Cerminan Rindu
CERMINAN RINDU
Bersandar Dalam Hayalan Tentang Kewajaran,
Menjadi Kerabat Angin Yang Berhembus Menjauh Dari Matahari.
Aku Duduk Dengan Genggaman Kobaran-Kobaran Mimpi
Menatap AWAN Yang Kerutannya Tak Jelas,
Seakan Mengikuti Sejak Awal PerjalananKU.
PandanganKu Tak Lepas Menikmati Setiap Tariannya,
Separuh Matahari Tertutup OlehNya,
Bergerak Dengan Tingkah Unik Mengikuti Angin
Membentuk Ukiran Wajah yang MenatapKU dan Tersenyum,
Sama Seperti Senyuman Yang Selalu Kau Berikan PadaKU.
Bersama Waktu Setelah Hujan.
Senja Dalam Himpitan Gunung, Ia Nampak Dengan Perhiasan,
Memanjakan Bola MataKU Dengan Keindahan Selendang Pelanginya.
Terbayang Engkau Dengan Gaun Menawan Dan Rambut PanjangMu Terurai,
Dari Kejauhan Aku Akan Tahu Kegelisahan BersamaMU.
Tetes-Tetes Air Yang Tersisah Dari Dedaunan Mengakhiri.
Cerita Matahati, Hujan, Angin, dan Pelangi Telah Melukis Keindahannya,
Aku Menunggu Bulan dan Bintang Membagi Keindahan Lain UntukNya
Saat Itu Tiba, Engkau DisampingKu Berhayal MengagumiNya...
Dikner Alipa
Bersandar Dalam Hayalan Tentang Kewajaran,
Menjadi Kerabat Angin Yang Berhembus Menjauh Dari Matahari.
Aku Duduk Dengan Genggaman Kobaran-Kobaran Mimpi
Menatap AWAN Yang Kerutannya Tak Jelas,
Seakan Mengikuti Sejak Awal PerjalananKU.
PandanganKu Tak Lepas Menikmati Setiap Tariannya,
Separuh Matahari Tertutup OlehNya,
Bergerak Dengan Tingkah Unik Mengikuti Angin
Membentuk Ukiran Wajah yang MenatapKU dan Tersenyum,
Sama Seperti Senyuman Yang Selalu Kau Berikan PadaKU.
Bersama Waktu Setelah Hujan.
Senja Dalam Himpitan Gunung, Ia Nampak Dengan Perhiasan,
Memanjakan Bola MataKU Dengan Keindahan Selendang Pelanginya.
Terbayang Engkau Dengan Gaun Menawan Dan Rambut PanjangMu Terurai,
Dari Kejauhan Aku Akan Tahu Kegelisahan BersamaMU.
Tetes-Tetes Air Yang Tersisah Dari Dedaunan Mengakhiri.
Cerita Matahati, Hujan, Angin, dan Pelangi Telah Melukis Keindahannya,
Aku Menunggu Bulan dan Bintang Membagi Keindahan Lain UntukNya
Saat Itu Tiba, Engkau DisampingKu Berhayal MengagumiNya...
Dikner Alipa
Lintang Yang Sombong
LINTANG YANG SOMBONG
Takjub Semesta Disela-Sela Tawa Para Pengembara.
Apakah Aku Tak Salah...?
Aku Tak Melihat Wajah Senyum Ataupun SedihMu Lintang,
Aku Hanya Melihat Engkau Adalah Bagian DariNYA
Yang Berdiri Kokoh dan Begitu Angkuh,
Saat SulitKu Jika BersamaMU...
Aku dan Banyak Lainnya Yang MengenalMu Tahu,
Ini Bukan Soal Apa Yang Akan Diperoleh,
Namun Keingin Tahuan Tentang Arti Dari Perjalanan
Yang Katanya Bersisahkan Jejak Dalam Permainan Waktu,
Dan Menyelip Kenangan AkanMu.
Enam Bahkan Dua Belas Mentari Akan Hadir
Menemana Lamgkah Demi Langkah.
Engkau Memurkakan Keajaiban,
Teman Akan Menjadi Saudara,
Kesukaan Berubah Menjadi Kecintaan,
Bahkan Setiap Langkah Akan Menjadi Cerita.
Aku Tak Sadar...
Engkaukah Ini Lintang?
Engkau Terlihat Seperti Telanjang Dikeramaian Kota,
Engkau Menjelaskan Akan KesombanganMu Adalah Jalan.
BODOH...!
Dikner Alipa
Takjub Semesta Disela-Sela Tawa Para Pengembara.
Apakah Aku Tak Salah...?
Aku Tak Melihat Wajah Senyum Ataupun SedihMu Lintang,
Aku Hanya Melihat Engkau Adalah Bagian DariNYA
Yang Berdiri Kokoh dan Begitu Angkuh,
Saat SulitKu Jika BersamaMU...
Aku dan Banyak Lainnya Yang MengenalMu Tahu,
Ini Bukan Soal Apa Yang Akan Diperoleh,
Namun Keingin Tahuan Tentang Arti Dari Perjalanan
Yang Katanya Bersisahkan Jejak Dalam Permainan Waktu,
Dan Menyelip Kenangan AkanMu.
Enam Bahkan Dua Belas Mentari Akan Hadir
Menemana Lamgkah Demi Langkah.
Engkau Memurkakan Keajaiban,
Teman Akan Menjadi Saudara,
Kesukaan Berubah Menjadi Kecintaan,
Bahkan Setiap Langkah Akan Menjadi Cerita.
Aku Tak Sadar...
Engkaukah Ini Lintang?
Engkau Terlihat Seperti Telanjang Dikeramaian Kota,
Engkau Menjelaskan Akan KesombanganMu Adalah Jalan.
BODOH...!
Dikner Alipa
Senin, 27 Januari 2014
Berawal Dari Pekan
BERAWAL DARI PEKEN
Mendung Mendayung Disudut Kampung
Dalam Belantara yang Tak Asing Dan Ramai,
Lambayan Air Yang Terselip Diantara Bebatuan
Menemani Setiap Kedipan Mata,
Aku Menjadi Tamak Sejak Pekan Yang Telah KU Mulai,
Gelap Diantaranya Menjadi Kawan dan Penghuninya Menjadi Hiburan.
Hari-Hari Bercerita Tentang Terkelupasnya Kulit Wajah
Meski Terbalut Keyakinan Dan Harapan,
Jemari yang Dulunya Lembut Berubah Menjadi Tajam Dan Bersisik,
Telapak Kaki Dulunya Bersisah Jejak Meski Sampah,
Berubah Menjadi Tombak Mata Kelelawat yang Terbuat dari Bambu.
Ini Adalah Awal Dimana Pertanyaan Tentang "Bagaimana" Akan Dimulai,
Ini Adalah Isyarat Tentang "APA" Akan Terlihat Seperti Lukisan Yang Terpajang Disudut Rung Keramaian,
Ini Akan Terpandang, Dimana Pelita Dalam Gelap Meski Dikejauhan Adalah Sebuah Tujuan,
Inilah Aku Yang Memulai Pekan Dengan Keyakinan Dan Harapan.
Dikner Alipa
Mendung Mendayung Disudut Kampung
Dalam Belantara yang Tak Asing Dan Ramai,
Lambayan Air Yang Terselip Diantara Bebatuan
Menemani Setiap Kedipan Mata,
Aku Menjadi Tamak Sejak Pekan Yang Telah KU Mulai,
Gelap Diantaranya Menjadi Kawan dan Penghuninya Menjadi Hiburan.
Hari-Hari Bercerita Tentang Terkelupasnya Kulit Wajah
Meski Terbalut Keyakinan Dan Harapan,
Jemari yang Dulunya Lembut Berubah Menjadi Tajam Dan Bersisik,
Telapak Kaki Dulunya Bersisah Jejak Meski Sampah,
Berubah Menjadi Tombak Mata Kelelawat yang Terbuat dari Bambu.
Ini Adalah Awal Dimana Pertanyaan Tentang "Bagaimana" Akan Dimulai,
Ini Adalah Isyarat Tentang "APA" Akan Terlihat Seperti Lukisan Yang Terpajang Disudut Rung Keramaian,
Ini Akan Terpandang, Dimana Pelita Dalam Gelap Meski Dikejauhan Adalah Sebuah Tujuan,
Inilah Aku Yang Memulai Pekan Dengan Keyakinan Dan Harapan.
Dikner Alipa
Rabu, 18 Desember 2013
Tulisan "Kertas Dan Pena
Aku adalah cerita Tentang Kertas Kosong dan Kotor
Aku tak Terpakai, Ditinggalkan dengan sebuah Tanya
Banyak Cerita yang Mereka Tulis, tak Sedikitpun UntukKu
FikirKu Akan keraguan TentangKu...
Entahla...
Engkau, Juga PenaMu ada pada Bagian Terkecil Kelopak MataKu
Engkau Bercerita tentang Hal yang Aneh Pada Kertas-Kertas Lain yang Mampir dikedua Tangan LembutMu
Engkau Bahkan Sangat Bersemangat Mengganti Tinta-tinta PenaMu yang hampir Kering
TanyaKu PadaMu,
Mungkinkah Engkau Membagi Coretan TanganMu pada Kertas Kosong dan Kotor Ini...
Bersama Hening,
Engkau Melihat dan MenyentuhKu dengan Sapaan Kekuatiran
Engkau Menggenggam dan MengangkatKu dari Rung Pengap Juga Berdebu
Engkau MembersihkanKu dari Debu-debu yang Sejak Dulu Siap Kulepaskan
Sempat Aku Berfikir Tentang KekuatiranMu,
AdaKah Kesempatan Itu...
Indah Bersama CeritaMu...
Setiap Kali Ku Melihat, PenaMu Menari dengan Cepat diatas Baris-barisKu yang Kosong
Engkau Bersenang-Senang dengan CeritaMu
Meski Sesekali Aku Merasakan Air MataMu Jatuh Tepat diatas Coretan PenaMu
Engkau Selalu MenjadikanKu Raja pada Setiap Coretan dan PenaMu sebagai Ratunya
Ini Sudah Aku FiKirkan sebelumnya
Suatu Waktu Barisan KosongKu Akan Habis,
Engkau akan Menaruh PenaMu Diatas Kertas Kosong Lain dan Mempersiapkan Cerita yang Lain Pula,
Aku tidak MempersalakanMu Ketika Akhir CeritaMu Bukan Pada LembaranKu
Akupun tidak akan MenyelaMu Ketika Engkau Menyimpanku Tepat dimana Dulu Engkau MenemukanKu
Aku Akan MEnjaga KisahMu Dari Debu dan Mungkin Rayap sekalipun yang akan Merobek-Robek Aku...
Aku akhirnya TAhu Akan KekuatiranMu
Dan Aku hanya Ingin Bertanya, "Mengapa...Kapan...Siapa...", padaMu.
DIKNER ALIPA
Aku tak Terpakai, Ditinggalkan dengan sebuah Tanya
Banyak Cerita yang Mereka Tulis, tak Sedikitpun UntukKu
FikirKu Akan keraguan TentangKu...
Entahla...
Engkau, Juga PenaMu ada pada Bagian Terkecil Kelopak MataKu
Engkau Bercerita tentang Hal yang Aneh Pada Kertas-Kertas Lain yang Mampir dikedua Tangan LembutMu
Engkau Bahkan Sangat Bersemangat Mengganti Tinta-tinta PenaMu yang hampir Kering
TanyaKu PadaMu,
Mungkinkah Engkau Membagi Coretan TanganMu pada Kertas Kosong dan Kotor Ini...
Bersama Hening,
Engkau Melihat dan MenyentuhKu dengan Sapaan Kekuatiran
Engkau Menggenggam dan MengangkatKu dari Rung Pengap Juga Berdebu
Engkau MembersihkanKu dari Debu-debu yang Sejak Dulu Siap Kulepaskan
Sempat Aku Berfikir Tentang KekuatiranMu,
AdaKah Kesempatan Itu...
Indah Bersama CeritaMu...
Setiap Kali Ku Melihat, PenaMu Menari dengan Cepat diatas Baris-barisKu yang Kosong
Engkau Bersenang-Senang dengan CeritaMu
Meski Sesekali Aku Merasakan Air MataMu Jatuh Tepat diatas Coretan PenaMu
Engkau Selalu MenjadikanKu Raja pada Setiap Coretan dan PenaMu sebagai Ratunya
Ini Sudah Aku FiKirkan sebelumnya
Suatu Waktu Barisan KosongKu Akan Habis,
Engkau akan Menaruh PenaMu Diatas Kertas Kosong Lain dan Mempersiapkan Cerita yang Lain Pula,
Aku tidak MempersalakanMu Ketika Akhir CeritaMu Bukan Pada LembaranKu
Akupun tidak akan MenyelaMu Ketika Engkau Menyimpanku Tepat dimana Dulu Engkau MenemukanKu
Aku Akan MEnjaga KisahMu Dari Debu dan Mungkin Rayap sekalipun yang akan Merobek-Robek Aku...
Aku akhirnya TAhu Akan KekuatiranMu
Dan Aku hanya Ingin Bertanya, "Mengapa...Kapan...Siapa...", padaMu.
DIKNER ALIPA
Minggu, 03 November 2013
"MEJA KOSONG"
Mengapa Engkau Kesunyian Kawan...
Mengapa Engkau Nampak tak bisa berbuat apa-apa...
Bukannya Engkau slalu dikelilingi banyak Orang...
Bukannya Dulu Engkau sangat Bergairah...
Bukannya dulu Engtkau Ramai dikunjungi...
Bukannya dulu engkau slalu Rapih dan Menarik...
Bukannya dulu Engkau jadi rebutan...untuk bersama denganMu adalah Kebanggaan,
sejak kapan Kawan...
Sejak kapan engkau slalu kesunyian...
apa Engkau dimusuhi orang-orang...
apakah Engkau sudah Sibuk dengan Cerita Lainmu...
apa Engkau tidak bisa Mendahulukan Urusan orang Banyak...
apa munkin Engkau menemui Pasangan yang tidak bisa Berkomitmen...
Aku jadi Prihaatin Kawan !
Jadi Bagaimana Kawan...
apakah Engkau akan Membenah Diri...
apakah Engkau akan selalu Bersembunyi dalam kantong sampah dan bahkan punggungMu tak tertutupi...
apakah Engkau akan menunggu orang lain untuk membuamu Menarik...
apakah Engkau akan Memberanikan Diri Menyentuh Roh kegelisahan Orang-orang...
apakah mungkin orang-orang itu Menoleh Engkau meski Kelopak Mata mereka Luka Terpahat Kekuatiran.
Engkau Sepi !
Bisakah Engkau Berkata Sesuatu Kawan...
(...) !
Apa...
kamu..."MEJA KERJA YANG KOSONG"
Dikner Alipa
Mengapa Engkau Nampak tak bisa berbuat apa-apa...
Bukannya Engkau slalu dikelilingi banyak Orang...
Bukannya Dulu Engkau sangat Bergairah...
Bukannya dulu Engtkau Ramai dikunjungi...
Bukannya dulu engkau slalu Rapih dan Menarik...
Bukannya dulu Engkau jadi rebutan...untuk bersama denganMu adalah Kebanggaan,
sejak kapan Kawan...
Sejak kapan engkau slalu kesunyian...
apa Engkau dimusuhi orang-orang...
apakah Engkau sudah Sibuk dengan Cerita Lainmu...
apa Engkau tidak bisa Mendahulukan Urusan orang Banyak...
apa munkin Engkau menemui Pasangan yang tidak bisa Berkomitmen...
Aku jadi Prihaatin Kawan !
Jadi Bagaimana Kawan...
apakah Engkau akan Membenah Diri...
apakah Engkau akan selalu Bersembunyi dalam kantong sampah dan bahkan punggungMu tak tertutupi...
apakah Engkau akan menunggu orang lain untuk membuamu Menarik...
apakah Engkau akan Memberanikan Diri Menyentuh Roh kegelisahan Orang-orang...
apakah mungkin orang-orang itu Menoleh Engkau meski Kelopak Mata mereka Luka Terpahat Kekuatiran.
Engkau Sepi !
Bisakah Engkau Berkata Sesuatu Kawan...
(...) !
Apa...
kamu..."MEJA KERJA YANG KOSONG"
Dikner Alipa
Jumat, 01 November 2013
Puisi "POHON CERMIN"
POHON CERMIN...
DihadapanKu...
Kulihat hanya sebatang Pohon yang tumbuh kesunyian.
Sebatang Pohon...
pohon yang tak sesuatupun datang menghampirinya,
Dia yang Diam...
Dia yang Kesunyian tanpa Bayangan,
Dia Berdiri...
Dia Sendiri tak Bernyawa,
Dia yang semakin Lama Daunnya Jatuh, Tertumpuk tanpa Mengganggu Pikirannya,
Dia Kacau...
Dia yang Membiarkan Ranting Keringnya Patah dan Jatuh Ke Tanah,
Dia bahkan tidak Berbuat apa-apa ketika perhiasan Kakinya Kering, Hangus Dilalap Panas,
Dia bahkan hanya Melihat Satu Kesempatan untuk waktu yang Lama,
Dia yang Mengharapkan Kawan...
Dia Menunggu segerombolan Angin Menyelip diselah-selah Daunnya,
Dia yang Menanti Kedatangan Hujan untuk Membasahi Kegundaanya,
Dia yang selalu Berusaha Meraih Cahaya yang kadang Redup dan kadang Memberi Keyakinan,
Dia yang selalu Berhayal akan Menciptakan simponi Indah, jauh dalam Kesendirian.
Dia seperti...eEM
Dia...
Dia Itu AKU...!
penulis,
Dikner Alipa
DihadapanKu...
Kulihat hanya sebatang Pohon yang tumbuh kesunyian.
Sebatang Pohon...
pohon yang tak sesuatupun datang menghampirinya,
Dia yang Diam...
Dia yang Kesunyian tanpa Bayangan,
Dia Berdiri...
Dia Sendiri tak Bernyawa,
Dia yang semakin Lama Daunnya Jatuh, Tertumpuk tanpa Mengganggu Pikirannya,
Dia Kacau...
Dia yang Membiarkan Ranting Keringnya Patah dan Jatuh Ke Tanah,
Dia bahkan tidak Berbuat apa-apa ketika perhiasan Kakinya Kering, Hangus Dilalap Panas,
Dia bahkan hanya Melihat Satu Kesempatan untuk waktu yang Lama,
Dia yang Mengharapkan Kawan...
Dia Menunggu segerombolan Angin Menyelip diselah-selah Daunnya,
Dia yang Menanti Kedatangan Hujan untuk Membasahi Kegundaanya,
Dia yang selalu Berusaha Meraih Cahaya yang kadang Redup dan kadang Memberi Keyakinan,
Dia yang selalu Berhayal akan Menciptakan simponi Indah, jauh dalam Kesendirian.
Dia seperti...eEM
Dia...
Dia Itu AKU...!
penulis,
Dikner Alipa
Kamis, 26 September 2013
Gaya Kepemimpinan
GAYA
KEPEMIMPINAN CAMAT POSO PESISIR SELATAN
KABUPATEN POSO
Oleh;
Askar Mayusa S.IP
Askar Mayusa S.IP
Gaya
kepemimpinan camat Poso Pesisir Selatan dalam lingkup penyelenggaraan
pemerintahan umum berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2008 tentang
Kecamatan dan Peratran Daerah Kabupaten Poso Nomor 5 Tahun 2008 Tentang
Organisasi Dan Tata Kerja Pemerintah Kecamatan Dan Kelurahan, yaitu sebagai berikut :
Minggu, 21 Oktober 2012
catatan-catanku...
Dikner_Alipa
1. perjamuanku bersama sebatang Rokok yang hampir
habis disaat matahari yang kian terhimpit oleh belahan gunung,
memancarkan cahaya indah dibalik optik
kuingin berlari menghampirinya dengan sapaan keagungan,
agar dia tetap disana "disisiku" untuk bersama memancarkan cahaya indah itu...
kuingin berlari menghampirinya dengan sapaan keagungan,
agar dia tetap disana "disisiku" untuk bersama memancarkan cahaya indah itu...
2. bintang-bintang seakan mendengarkan percakapanku dengan selembar kertas putih tentang hati yang gundah...
3. sebutan namamu sangat indah dalam mimpi dan hayalku, tapi sapaan itu tak bisa ku ungkapkan dalam keseharianKU...
4. dia yang menatapQ, dgn senyumnya yang manis tak bernyawa membuat suara-suara itu hadir bagai angin...
5. merangkak dalam gelap mengikuti sumber suara keramaian diujung jalan kan ada terang yang akan mengajakKU tuk menari...
6. BERSAMA KICAUAN BURUNG DIPAGI HARI MENUNGGU KAN DATANGNYA MENTARI
7. jauh dari kelopak Matamu yang tak sesekali
berkedip, Aku selalu tersenyum dalam kegundahan. dibalik bayamganMu, Ku
selaLu Berdiri Tgak dalam KemUnafikan cara berfikirKu, dan bERharap kau
akan menoLeh kEbeLakang...
8. Tertunda dan Duka.....
saat Hujan, bertedu di Gubuk Tua...
dari awal sampai akhir
setiap tetes yang keluar dari atap yang kusam...
Tanya-tanya itu semakin merobek,
Ku-butuh Engkau sahabat...
DiSINI...!
ulurkan tangan menampung tetesan itu...
9. Pecahan Gelap Menyobek Nadi yang Diam,
Dalam Arungan Kelam tanpa Sebua Pijakan juga akan Percuma...
Keterasingan masih Pilihan...
8. Tertunda dan Duka.....
saat Hujan, bertedu di Gubuk Tua...
dari awal sampai akhir
setiap tetes yang keluar dari atap yang kusam...
Tanya-tanya itu semakin merobek,
Ku-butuh Engkau sahabat...
DiSINI...!
ulurkan tangan menampung tetesan itu...
9. Pecahan Gelap Menyobek Nadi yang Diam,
Dalam Arungan Kelam tanpa Sebua Pijakan juga akan Percuma...
Keterasingan masih Pilihan...
Kamis, 06 September 2012
KETIKA ALAM TIDAK BERSAHABAT
Apakah MANUSIA dapat menahan?
dibalik pemikiran rasional manusia tersimpan sisi negatif yang munkin tidak dipahami, yang dapat merobohkan sebua teori. kekuatan alam adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari tidak memihak pada apapun, meski nyawa disembunyikan dalam laci-Laci bumi!
dibalik pemikiran rasional manusia tersimpan sisi negatif yang munkin tidak dipahami, yang dapat merobohkan sebua teori. kekuatan alam adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari tidak memihak pada apapun, meski nyawa disembunyikan dalam laci-Laci bumi!
siapakah yang akan disalahkan?
apaka alam hanya ingin memberi pekerjaan untuk mereka yamg menjadi korban, untuk membersikan gumpalan-gumpalan kayu, runtuan-runtuhan rumah, yang terhanyut di sepanjang aliran sungai dantersisah hanya runtuhan-runtuhan rumah, tanpa melihat kerugiam mereka yang tak terhitung jumlanya.
sunggu ironis...
mereka hanya ingin bersenandung dalam gurauan malam...
yang hanya terdengar gerombolan bunyi serangga seakan menemani hayalan para orang tua tentang hari yang akan datang...
menikmati pemandangan desa yang pot-pot bungah tersusun rapih dipinggiran jalan depan rumah mereka...
sejauh mata memandang, para anak-anak akan tersenyum ketika terlihat cita-cita mereka sudah di ujung telunjuk...
Namun, harapan-harapan itu tertinggal dalam hayalan ketika Alam sudah menunjukan tajinya...
siapa yang akan disalahkan?
kita manusia hanya dapat mencegah dan menerimah
siapa yang akan disalahkan?
kita manusia hanya dapat mencegah dan menerimah
Sabtu, 11 Agustus 2012
jalur Alternatif Gunung Gawalise
pendakian Gawalise
dalam perkembangan kajian dan aktifitas kami dari Mapala Santigi, untuk melihat potensi wisata dan Sosial Budaya baik dibidang petualangan dan Penelitian, kami mencoba menelusuri sisi lain dari pegunungan Gawalise. alternatif jalur pendakian gunung gawalise yang dimulai dari desa salena, dapat menawarkan ketegangan dan segudang ilmu bagi para penggila kearifan Sosial Budaya masyarakat Lokal dan petualangan disekitaran Gunung Gawalise.
Senin, 06 Agustus 2012
budaya Poso
Model Kearifan Lokal di Poso
Poso, daerahnya terbentuk oleh model masyarakat yang plural, multi suku dan bermacam agama. Poso berkembang sebagai masyarakat yang plural, baik etnis maupun agama. Ikatan kekerabatan yang juga muncul sebagai akibat persentuhan tradisi, semboyan SINTUWU MAROSO, bukanlah semboyan yang dibuat hanya untuk kepentingan tertentu, namun semboyan itu telah terbentuk sepanjang sejarah poso.
Poso, daerahnya terbentuk oleh model masyarakat yang plural, multi suku dan bermacam agama. Poso berkembang sebagai masyarakat yang plural, baik etnis maupun agama. Ikatan kekerabatan yang juga muncul sebagai akibat persentuhan tradisi, semboyan SINTUWU MAROSO, bukanlah semboyan yang dibuat hanya untuk kepentingan tertentu, namun semboyan itu telah terbentuk sepanjang sejarah poso.
Senin, 30 Juli 2012
catatan KU
24 jam didalam BUS
Perjalananku menuju kota yang penuh teka-teki...?
Aku adalah seorang pelajar,
Aku terlahir dari keluarga sederhana,
Aku adalah orang yang pernah merasakan dampak dari perbedan...
Ceritaku kali ini mengenai perjalanan bersama orang-orang yang berbeda denganku (" "), menuju suatu kota yang menurut mereka adalah kota yang penu dengan orang-orang yang memakai topeng, tapi menurutku kota ini adalah kota yang bisa membuarku bernafas Kebebasan.
ceritaQ
Cerita Untuk Anak di Masa Depan
Ketika musik kemarau datang, daun keringpun terombang-ambing ditiup angin. Disitu tempat dimasa depan Seorang Ayah membgi cerita semata wayangnya tentang masa lalu disuatu negri...
"kemari anakku"
Ayah ceritakan tentang negeri yang dulu Ayah hidup bersama, didalam Negeri yang dulu ramah, suka bergotang royong, Negeri yang ramah dan sopan, yang konon suka bekerja keras,...
Negeri Ayah yang dulu Ayah tempati, tempat Ayah lahir dan dibesarkan Bapak Ibu Ayah, tempat bermain dengan teman-teman semasa kecil Ayah, tempat Ayah bertemu orang-orang hebat yang datang dan pergi pada episode-episode hidup...
Cerita Kami
Langganan:
Postingan (Atom)





